Puisi Malam Louise Glück



Ada penyair siang, ada penyair malam. Penyair siang selalunya membuat kita rasa hendak bangun dan keluar rumah. Sementara penyair malam adalah sebaliknya: kita kunci pintu, kita masuk bilik, kita buka tingkap, dan kita sediakan teh untuk membaca puisi mereka. Walt Whitman, Pablo Neruda, Wallace Stevens ialah penyair siang. Chairil Anwar, Mark Strand, Jorge Luis Borges ialah penyair malam. Tapi ini hanya tanggapan imaginasi saya terhadap puisi mereka; ia bukan klasifikasi yang patut diterima bulat-bulat. Saya yakin Whitman dan Neruda masing-masing mempunyai puisi malam. Namun kalau saya memejamkan mata sekarang, saya akan nampak budak-budak lelaki Whitman berenang di bawah matahari, dan tomato Neruda berjemur di tengah panas. 

Buku Louise Gluck Faithful and Virtuous Night tidak dinafikan lagi ialah kumpulan puisi nokturnal. I was like a bright light passing through a dark room, Gluck menulis di puisinya dengan judul sama. Memori datang kepada Gluck seperti lebah datang kepada unggun api; semuanya mati ditelan kegelapan. Tapi apakah sebenarnya memori dalam dunia seorang Louise Gluck? 

Memori ialah pengembaraan:

It came to me one night as I was falling asleep
that I had finished with those amorous adventures 
to which I had long been a slave. Finished with love?
my heart murmured. To which I responded that many profound
discoveries
awaited us, hoping, at the same time, I would not be asked
to name them. For I could not name them. But the belief
that they existed - 
surely this count for something? 

Memori ialah hadiah hari jadi:

In one box, pressed handkerchiefs with a monogram.
In the second box, colored pencils arranged
in three rows, like a school photograph.
In the last box, a book called My First Reader. 

Memori ialah diri di bawah sedar: 

How deep it goes, this soul, 
like a child in a department store,
seeking its mother - 

Perhaps it is like a diver
with only enough air in his tank
to explore the depths for a few minutes or so - 
then the lungs send him back.

Memori ialah kesepian malam: 

Silence had entered me.
It was like the night, and my memories - they were like stars
in that they were fixed, though of course
if one could see as do the astronomers
one would see they are unending fires, like the fires of hell. 

Memori ialah panggilan waktu:

Sometime after I had entered
that time of life
people prefer to allude to in others
but not in themselves, in the middle of the night
the phone rang. It rang and rang 
as though the world needed me,
though reality it was the reverse.

Deringan telefon dalam puisi Gluck mengingatkan saya kepada puisi Joko Pinurbo "Telepon Tengah Malam":

Telepon berkali-kali berdering, kubiarkan saja. 
Sudah sering aku terima telepon dan bertanya
"Siapa ini?", jawabnya cuma "Ini siapa?" 

Dalam dunia Jokpin, panggilan tengah malam pun boleh menjadi ledakkan humor. Tapi dalam dunia Gluck, ia menjadi peringatan kepada dunia di luar kata-kata. 

Sebahagian besar daripada puisi Gluck dalam buku ini boleh dibaca sebagai catatan jurnal dalam bentuk baris. Dia mencipta watak seorang pelukis dan dia menceritakan hubungan si pelukis dengan saudara lelakinya. Mereka membesar bersama, dan mereka mendewasa bersama. Kekuatan Gluck dalam buku ini bukan terletak pada lirik atau rima di antara setiap baris; tapi renungan waktu yang ditemuinya dalam pengalaman hidup paling bermakna. Dia menulis ini dalam puisi berjudul "Midnight": 

I held my brother's hand.
We watched the monuments succeeding one another
always in the same order
so that we moved into the future
while experiencing perpetual recurrences. 

The boat travelled up the river and then back again.
It moved through time and then
through a reversal of time, through our direction
was forward always, the prow continuously 
breaking a path in the water.

Pembaca yang melalui kembara malam Gluck akan perlahan-lahan terbayang sosok seorang penyair di tepi tingkap. Matanya merenung jauh ke angkasa. Di bawahnya terbentang sebuah kota yang sepi. Kita menunggu dia menyanyi. Tapi sebaliknya dia hanya bercerita dalam bahasa seorang kawan kepada seorang kawan. Kadang-kadang cerita itu terasa begitu intim seolah ada sungai sedang mengalir tenang dalam kedua-dua matanya. Tapi kadang-kadang cerita itu terlalu asing dan janggal (ternyata parabel bukan kekuatan Gluck). Kita menunggu jika ceritanya akan berakhir; namun malam masih panjang, dan bulan belum merangkak naik ke ranjang.     


Comments

Popular Posts