William S. Burroughs di Tangier


Setiap kali saya membaca kedatangan penulis Barat ke Timur Tengah, ia membingunkan saya. Kalau bukan untuk mencari pelacur perempuan, mereka datang mencari budak lelaki di bawah umur. Di abad kesembilan belas, Istanbul adalah kota Asia yang paling kerap dikunjungi oleh penulis Perancis. Flaubert datang mencari pelacur dan penari sufi, tetapi hanya pulang membawa penyakit kelamin di celah kangkangnya. Menjelang abad kedua puluh, geografi penulis Barat beralih kepada Tangier di Morocco. Sebelum Paul Bowles menulis cerpen-cerpen terkenalnya di sana, Oscar Wilde telah terlebih dahulu datang bersama anak muridnya Andre Gide. Saya masih ingat membaca buku biografi Wilde yang menceritakan bagaimana dia dan Gide menonton seorang budak lelaki Arab membuat tarian dan bagaimana kemudian Wilde menarik Gide keluar dan tanya jika dia inginkan budak itu. Gide mengakui keinginannya dan Wilde ketawa dengan "suara menyerupai syaitan."
 
Kerja syaitan ini ternyata berulang semula pada tahun 1954 apabila tiba giliran William S. Burroughs untuk berkunjung ke sana. Dia telah membaca tulisan Paul Bowles dan pada mulanya dia agak kecewa dengan rutin dan budaya harian orang Morocco. Dia kongsikan pengalaman ini dalam surat kepada Allan Ginsberg: "What's all this old Moslem culture shit? One thing I have learned. I know what Arabs do all day and all night. They sit around smoking cut weed and playing some silly card game. And don't ever fall for this inscrutable oriental shit like Bowles puts down (that shameless faker). They are just gabby, gossipy simple-minded, lazy crew of citizens." Nada hampir sama pernah diluahkan oleh Andre Gide ketika dia melawat Istanbul. Dia mengkritik pakaian tradisional orang Turki yang dia rasa kotor dan selekeh. Ternyata pendapat Gide membuat orang Turki tersentap sehingga pakaian tradisional Turki diharamkan selepas kejatuhan Empayar Turki Uthmaniyyah.
 
Kemarahan Burroughs tidak lama. Sebulan selepas dia tiba di kota itu, dia memaklumkan kepada Ginsberg dia telah main tiga orang budak Arab. Antara penulis pertama dia temui di sana adalah seorang wartawan bernama David Woolman. Dalam buku biografi Barry Miles berjudul Call Me Burroughs: A Life, Burroughs menceritakan kepada Ginsberg bagaimana dia dan Woolman beberapa kali mengupah budak-budak lelaki bawah umur untuk melakukan aksi lucah kepada mereka:
 
"We took the two boys back to Dave's room and told them what we wanted. After some coy gigling they agreed, and took off their ragged clothes. Both of them had slender, beautiful boy bodies. Dave was M. C. he pointed to Boy 2 and said: 'All right, you screw him first' pointing to Boy 1. Boy 1 lay down on his stomach on the bed. Boy 2 rubbed spit on his prick and began screwing him. Dave said: 'Leche we want leche.' Leche means milk, Spanish for jissum - the boy contracted convulsively and his breath whistled through his teeth. He lay still for a moment on top of the other boy then shoved himself off with both hands. He showed us the jissum on his prick and asked for a towel. Dave threw him one and he carefully wiped his prick. Then he lay down on his stomach and Boy 1 took over. He was more passionate. He got mad because Boy 2 kept his ass contracted and pounded on his buttocks with his fist. Finally he got in and began screwing violently. Boy 2 groaned in protest. Boy 1 came almost immediately, his buttocks quivering in spasms. He sighed then rolled free... I see both boys everyday. They will do it anytime for forty cents, which is standard price."

Milan Kundera pernah kata semua novelis adalah biseksual. Tetapi bagaimana dengan novelis-novelis yang homofobik? Novelis-novelis yang maskulin dan sadomascotistik?  Adakah bakat mereka kurang atau lebih rendah? Tidak juga. Penulis maskulin seperti Hemingway dan Roth mungkin tidak palam punggung budak bawah umur seperti Burroughs. Tetapi sebaliknya mereka meliwat emosi pembaca. Mereka meliwat pembaca dengan bahasa mereka yang bernafsu kebinatangan.

            

Comments

Popular Posts