Ars Poetica: T. Alias Taib & M. Aan Mansyur


licentia poetica

(sajak T. Alias Taib)

penyair itu memasuki hutan kata
menyusuri diksi demi diksi
dari puisi ke puisi
sepanjang kembara itu dia memikul
akalnya, imaginasinya dan peribadinya.
di hutan tebal yang dirimbuni kata,
dia melepaskan akalnya
merangkak di atas akar imaginasi
mengumpul makna dan rentak.
di hutan tebal-gelap itu,
kata-kata berguguran di dalam dirinya
kata-kata dari pohon peribadinya.

penyair itu memasuki kamus hidup
mencari makna demi makna
dari lembaran perisitiwa yang dilaluinya.
di dalam kamus itu tiada kata-kata
yang menghalang perburuannya
atau memperkecilkan penemuannya.
pada lembaran tebal kamus hidupnya,
dia melanggar sempadan
yang membataskan kebiasaan
bertutur, berbahasa dan berfikir;
dia melonggarkan gari
yang mengikat kebebasan.

penyair itu memasuki hutan kata
dengan lesen di tangannya


Ars Poetica ialah puisi tentang seni penulisan puisi. Sebenarnya, semua puisi ialah suatu bentuk ars poetica kerana setiap puisi menceritakan kepada kita, secara langsung atau tidak langsung, seni penulisan puisi seorang penyair. Cuma, apabila ia dibicarakan secara jelas, seperti yang dibuat oleh T. Alias Taib, maka ia dilihat sebagai genre puisi yang tersendiri. T. Alias Taib ada menulis juga sajak-sajak lain dalam bentuk ini, tapi sajak yang saya petik di atas ialah yang terbaik antara semuanya. Pemilihan kata-kata seorang penyair itu digambarkan sebagai sebuah hutan belantara. Penyair itu ibarat pemburu dan senjatanya ialah akal, senjatanya ialah pengalaman peribadi, dan senjatanya ialah kekuatan imaginasi. T. Alias Taib dalam sajak ini memang menggunakan banyak alat puisi serta pembinaan kalimat yang indah dibaca dan didengar. Cuba kita bandingkan sajak ini dengan sajak M. Aan Mansyur yang lebih sederhana tapi tidak kurang hebat dari segi subjek yang ingin dibicarakan iaitu seni penulisan puisi:

Engkau Dan Sajakmu
(sajak M. Aan Mansyur)

Engkau selalu sengaja memilih busana yang sederhana
agar kecantikanmu tidak karam ke dalam kemewahan.
Aku selalu sengaja memilih bahasa yang bersahaja saja
agar makna sajakku tidak lenyap di perangkap ungkapan.


Sajak ini, yang menjadi kredo penulisan puisi Aan, ternyata berbeza sama sekali dengan sajak T. Alias Taib di atas yang lebih kaya dengan warna puisi. Ars poetica atau kredo penulisan seorang penyair itu menentukan standard puisi yang dia akan pilih apabila membaca, mendapat inspirasi, dan menulis. Dari sajak T. Alias Taib, kita boleh nampak yang dia inginkan sajak yang tidak terikat oleh batas-batas makna atau konvensi. Dan memang itulah yang kita dapat dari sajak-sajaknya. Pada masa sama, T. Alias Taib juga cermat dalam pemilihan kata-kata dan pembinaan kalimat puisinya. Dia jarang sekali membazir pena puisinya dengan sajak-sajak sampah bernanah gaya Suhaimi Haji Muhammad yang kononnya melanggar sempadan puisi padahal sempadan itu dilanggar sahaja tanpa keindahan estetika.

Aan ialah antara penyair Indonesia generasi baru yang saya suka. Pengaruh Sapardi Djoko Damono memang nampak dengan jalas dalam sajak-sajaknya. Tetapi Aan berjaya, sedikit sebanyak, melarikan dirinya dari bayang awan hujan Sapardi dan mencipta gaya penulisannya yang tersendiri. Cinta ialah subjek utama yang kita akan jumpa dalam sajak-sajaknya. Dan semuanya disampaikan dengan bahasa puisi yang sederhana, tapi masih segar dan bisa membuat kita tersentak ketika membaca. Saya rasa puisi Indonesia semakin meninggalkan puisi jenis gelap yang dikatakan bermula dengan Sutardji dan mencapai kemuncaknya di tangan Afrizal Malna. Atmosfera kegelapan ini kemudian dicerahkan dengan kemunculan Joko Pinurbo. Dan sekarang Aan.

Bagaimana dengan puisi kita? Adakah kita dalam zaman gelap atau cerah? Saya tidak berminat nak letakkan label pada suasana puisi kita sekarang kerana bimbang tempiasnya akan kena pada penyair yang salah, seperti yang berlaku pada penyair-penyair kabur, yang saya lihat sebagai label paling bodoh pernah muncul dalam tradisi puisi kita. Kabur? Pembaca yang kabur mata jadi penyair pulak yang terpaksa tanggung dosa pembaca. Gila! Puisi itu bukan barang borong yang penyair lelong di belakang Jalan Tunku Abdul Rahman. Puisi itu suara kehidupan. Mestilah ada waktunya susah dan memerlukan pembacaan yang lebih teliti di pihak pembaca. Yang menyedihkan, golongan penyair kabur ini pernah juga dikritik oleh para penyair kita. Salah seorangnya ialah Suhaimi. Seperti mereka, Suhaimi pun seorang penyair yang sukar. Adakah dia juga kabur? Oh tidak, Suhaimi tidak kabur, tapi sajak-sajak mutakhirnya itu lebih kepada sampah busuk yang, nampak gayanya, sangat suka dimakan oleh sesetengah editor dan kritikus kita. Mangsa di sini ialah pembaca yang terpaksa menelan sampah yang dihidangkan kepada mereka.

Kenapa kita sangat kekurangan penyair seperti T. Alias Taib, Latiff Mohidin, Muhammad Haji Salleh, Sapardi, dan lebih-lebih lagilah Jokpin yang bahasa mereka itu sangatlah memikat dan menjemput kehadiran kita ke dalam keindahan dunia puisi? Ah, saya tidak bisa menjawab.

Comments

reinvandiritto said…
setelah Malna, akan ada generasi baru bernama Pringadi Abdi Surya :D
budakkilang said…
Tuan,

Izinkan saya mengambil sajak Ars Poetica karangan T. Alias Taib untuk dititipkan di halaman saya.
Wan Nor Azriq said…
Saya menanti kehadirannya :-)
Wan Nor Azriq said…
Ya.Silakan sahaja ambil sajak T.Alias Taib.

Popular Posts